Puisi : Kenangan Hari Minggu

by 19.24 0 komentar

Waktu bergulir begitu cepat
Bergiliran detik dan menit berlalu
Bersahut-sahutan
Suaranya merdu bagai Puisi kepada Rembulan
Tik, dan tok, tik, dan tok
Hingga waktu kebebasan mereka sampai
Mereka rela tuk terus bersahutan
Hingga waktu kebebasan mereka
Telah sampai
Mereka membisu
Berhenti

Wahai, Demi Dhuha dan Demi Masa
begitu cepatnya hingga tak terasa
Kini, 3 fase bulan tlah tampak 3 kali
Ya, Hari Minggu
Mereka
Para Mujtahid-Mujtahid ilmu
di hutan sana
Menunggu dibukanya kotak coklat
Bersegel kunci dengan seribu bahasa
beribu-ribu
bahkan bermiliar-miliar

Barangsiapa yang membuka tanpa kunci
Ya, tentu para penjaga kan tampak
Dengan wajahnya yang indah bagai Permata
Bukan Granit
Atau Gamping
maupun batu apung
Marahnya
Tanda mereka sayang kepada kami
Dan senyumnya
membuat kami rindu akan suasana ini..

Tentram, nyaman
Mengingat ku kini duduk diatas kursi kayu
Bukankah, 3 fase bulan yang lalu
ku sedang berselonjor diatas lantai
Kanan Novel
dan Kiri Gelas

Atau kah, kanan tangan
dan kiri pun tangan
tergeletak di atas kasur
ku lihat, mereka sangat lelah
Rabu-ke-Rabu berjuang tuk tak tidur malam minggu
Tidur di bawah kubah persegi
yang luasnya, bagai bumi dan surga

Disaat malam minggu
banyak yang bersendau gurau atau bermalam mingguan
Diluar sana
Dan Diluar Sini
Kami berjuang bagai tetesan air diantara genangan tinta legam
Antara Tercemar
atau tetap bening
Namun, dengan luka dan keringat yang deras mengalir
Bagai air terjun, kami rela karena putih
karena mereka, ya
Mereka..

Yanuar Atha Azhari
15 November 2015


Unknown

Developer

Assalamu'alaikum.. Just an ordinary person, was a santri at Nurul Fikri Boarding School, an now as a lessoner at SMAN 1 Serang City. More information, contact !

0 komentar:

Posting Komentar