Menyendiri dalam kesedihan
Terkadang tak membuatku semakin kuat
Memang betul kata mereka
Hati, punya kapasitasnya untuk memendam
Meredam masalah yang terus berkobar
Dan menyimpan rahasia yang tak mereka tahu

Kuceritakan pada rembulan
Yang terus bersinar, namun terkadang tertutup Awan gelap
Yang selalu ada menemaniku, dan merindukan kami
Ketika awan datang menyelimuti gelap
Dan menghalangi Cahaya rembulan itu
Minggir kau awan!
Yang membuat sinar itu terkadang menjadi redup..

Dan lalu tiba-tiba..
Rembulan menangis..
Awalnya rintih, rintih
Lama-lama ku ikut bersedih
Per tetes dan tetesan itu semakin deras..
Satu..
Dua..
Tiga..
Empat..
...
Sembilan puluh sembilan, dan..
Sudah.. cukup, hentikanlah..

Berhentilah..
Ku mohon.. berhentilah menangis..
Aku takut dengan-Nya
Aku takut dicambuk malaikat..
Berhentilah menangis, dan ku mohon..

Ketika kini
Pemuda itu ingin rembulan bersinar kembali
Tersenyum kembali, dan senyumnya membuatku malu akan rembulan yang terlalu indah
Uniknya saat kurindu akan mereka, Rembulan
Dimanakah Cahaya itu
Yang terhalang oleh awan, yang membuat bersedih
Tersenyumlah, dan jangan bersedih
Agar ku dapat sampaikan mengenai mereka
Agar ku dapat bercerita kepada-Nya
Dan kepada mereka..
Kepadanya..
Empat rembulan
Bersinar dimalam yang cerah
Ketika ku bersandar pada pohon tua
Besar, dan merangkulku di tanah putih
Pohon yang kokoh berdiri dan tegak
Menjadi saksi ku menangis dalam rindu
Ketika wajah mereka semakin pudar
dan..
Aku pun semakin lemah...
Aku..


Aku tak tahu, mengapa aku menulis puisi sesedih ini...



Waktu bergulir begitu cepat
Bergiliran detik dan menit berlalu
Bersahut-sahutan
Suaranya merdu bagai Puisi kepada Rembulan
Tik, dan tok, tik, dan tok
Hingga waktu kebebasan mereka sampai
Mereka rela tuk terus bersahutan
Hingga waktu kebebasan mereka
Telah sampai
Mereka membisu
Berhenti

Wahai, Demi Dhuha dan Demi Masa
begitu cepatnya hingga tak terasa
Kini, 3 fase bulan tlah tampak 3 kali
Ya, Hari Minggu
Mereka
Para Mujtahid-Mujtahid ilmu
di hutan sana
Menunggu dibukanya kotak coklat
Bersegel kunci dengan seribu bahasa
beribu-ribu
bahkan bermiliar-miliar

Barangsiapa yang membuka tanpa kunci
Ya, tentu para penjaga kan tampak
Dengan wajahnya yang indah bagai Permata
Bukan Granit
Atau Gamping
maupun batu apung
Marahnya
Tanda mereka sayang kepada kami
Dan senyumnya
membuat kami rindu akan suasana ini..

Tentram, nyaman
Mengingat ku kini duduk diatas kursi kayu
Bukankah, 3 fase bulan yang lalu
ku sedang berselonjor diatas lantai
Kanan Novel
dan Kiri Gelas

Atau kah, kanan tangan
dan kiri pun tangan
tergeletak di atas kasur
ku lihat, mereka sangat lelah
Rabu-ke-Rabu berjuang tuk tak tidur malam minggu
Tidur di bawah kubah persegi
yang luasnya, bagai bumi dan surga

Disaat malam minggu
banyak yang bersendau gurau atau bermalam mingguan
Diluar sana
Dan Diluar Sini
Kami berjuang bagai tetesan air diantara genangan tinta legam
Antara Tercemar
atau tetap bening
Namun, dengan luka dan keringat yang deras mengalir
Bagai air terjun, kami rela karena putih
karena mereka, ya
Mereka..

Yanuar Atha Azhari
15 November 2015



Berjalan, dan terus berjalan
Kulangkahkan kaki bak tumpuan ku hari esok
Namun mengapa, para Malaikat itu mulai jauh
Rasanya, dunia tampak semakin seram

Pintu-pintu gelapnya dunia
Satu-per-satu mulai terbuka
Di ujung sana
Kau, ya, kau
Menyendiri bak tetesan air
Hanya sebutir
Dingin, dan dingin nya terus merambat

Kau menyendiri, mengapa
Apa kau takut dengan gelap
Atau kau takut diterpa badai
Tersungkur pada wajahmu yang membuatmu hina
Merambat di atas panas yang tak kunjung padam
Engkau tersasar, wahai kau?
Engkau.. Engkau.. Engkau..

Hai keji,
Hawa Nafsu
Dibalik semua itu
Dibalik tentang kau
Ternyata, kau yang harus ku tikam lebih awal
Musuh dalam selimut
Hanya membutakan mata para mukmin
Dengan gemerlapnya dunia yang sebenarnya sampah
Sampah, sampah..
Lalu, kau masih biarkan dunia dihiasi dengan sampah
Bukan kemuliaan yang indah bagai Yakut dan Marjan

Wahai kau
Janganlah bersedih
Biarlah kau sendiri
Jangan kau biarkan Keji itu mendekatimu
Mewarnaimu, dan menghancurkan keimananmu
Biarlah para Malaikat itu menjagamu
Mendo'akan mu
Dan Menemanimu dalam Kegelapan
Kau, akan selalu bersama mereka
Selamanya...

Mereka,
Yang Wajahnya Mengingatkanku akan Surga..
Pasti.. InsyaaAllah..

Yanuar Atha Azhari
Serang, 12 November 2015


Bismillah..

3 Tahun telah terlewati
Terlihat, kini..
Singa itu telah memakai setelannya
Mengejar hari esok yang asanya tak kunjung padam
Asa tuk memegang amanah umat

Tapi..
Engkau lihat, bagaimana diluar sana
Terjal nan berbahaya
Jika ku lewat, ku takut semua luka dan obatnya
Justru semakin memudarkan asaku
Jika tak, apa jadinya dengan amanah ini
Jika mereka kukecewakan kembali
Karna amanat yang tak terselesaikan..
Singa, tentu tak kan jadi seorang pecundang..

Kawan..
Apa, ku harus melewatinya
Atau justru mundur..?
Mencari cara dan menyusun strategi
Lalu menerjang curam bak meroket
Hanya jawaban kalian yang sangat dapat membantu..
Sang singa yang kebingungan


Bismillah..

Pertama,
Saya bingung antara harus membuat blog atau nggak,
Itupun di blogger.com atau wordpress.com
Karena keduanya bisa menjadi sarana untuk mengembangkan hobi menulis (seperti hobinya Imam Ghazali)
-

Kedua,
Sangat menarik bagi saya untuk mendokumentasikan perjalanan saya "Dari Gunung turun ke Kota"
Ya, tentu bagi kami Anak Pesantren merupakan suatu rintangan yang berat untuk beradaptasi dari Pesantren ke Negeri, dengan segala kebiasaan yang kami lakukan di Pesantren dengan kegiatan yang cukup ketat dan budaya Islami, tentu akan tidak biasa untuk melihat budaya yang tidak sesuai dengan yang kami lihat..

Oh ya, memperkenalkan diri?
Perkenalkan..
Ismi..
Yanuar Atha Azhari, seorang Alumni dari Pesantren Ibnu Salam Nurul Fikri Boarding School,
Cinangka, Serang, Anyer, Hutan Cihidung, Desa Bantarwaru, Kecamatan Serang.. (Panjang?)

Dan Alhamdulillah, QadarAllah..
Hingga hari ini, saya ditakdirkan untuk melanjutkan di SMAN 1 Kota Serang, dengan segudang pengalaman di pesantren (yang saya yakin belum seberapa dengan teman-teman saya di Gontor dan pesantren lainnya), segudang nasihat sebagai bekal di Negeri hari ini, dan motivasi untuk selalu yakin bahwa Rencana Allah lah yang terbaik, dan Ia pasti memiliki jalan yang sungguh lebih indah dari rencana kita, dengan rizki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka..

Lahir di .............
Tinggal di .............
.......... bersaudara dari .......... saudara
...........
...........

~Sekian

Ada beberapa posting yang
Ren-ca-na-nya.. saya publish, dan sedang saya tulis..
Sudah panjaa..........ang......
Namun ada yang nggak sengaja lupa di save, di draft, di copy
Kini, harus di tulis ulang
Sudahlah,
Tidak apa apa,
Man Jadda Wa Jadda,
Dan kini..

"Langkah-langkah mantap esok pagi hari
Menjadi pertanda akan siapnya seorang pemuda menghadapi kehidupan
Kehidulan yang penuh dengan ketidaksesuaian, fana, fana, fana..
Kami kan bangkit
Sebagai 'Amr lil muttaqiina imama.'
Dan 'Al aliimul 'ilmu' dan para pembeda
Pembeda
Sebagai orang-orang yang memegang teguh aqidah dan kebenaran, dan aturan yang ditetapkan oleh-Nya dalam Kitabullah, Al-Qur'aanul Kariim, dan As-Sunnah..

Ya Allah, Ridhailah langkah kami di bumi ini
Mudahkan lah kami menjalani hari-hari kami
Menunaikan kewajiban dalam Diinul Islamiyyah
Dengan Rahmat dan Kemuliaan dari-Mu
Yaa Arhaman Raahimiin..

Izinkanlah kami menggapai cita-cita dan tujuan kami, mencapai target-target kami
Dan limpahkan lah kepada kami Rahmat, Kemuliaan dan Petunjuk-Mu setiap hari
Dan berikanlah kepada kami kemenangan
Agar hari ini, hingga esok hari dan seterusnya,
Kami dapat memberikan kabar gembira kepada mereka

Orang orang yang wajahnya mengingatkan akan surga-Mu
Hamba-hambamu yang kami cintai Fillah, dan hamba-hambamu yang mukmin
Saudara-saudara kami, dan para mujahid dan penghafal Al-Qur'an
Dan kumpulkanlah kami kelak
Bersama dalam Jannah Firdaus-Mu..

Aamiiin Yaa Rabbal A'lamiin.."

Bismillah..
Dengan ini,
Langkahku sebagai pengejar mimpi
DIMULAI..

Serang,
Kamis, 24 September 2015
_Epilouge, Selesai